Langsung ke konten utama
BAB
IILANDASAN TEORIA.
Pengertian Pendidikan Menurut Beberapa Tokoh
Pada penelitian
yang sedang di kaji oleh penulis, penulis ingin mundur sedikit ke belakang
untuk mengungkap beberapa pandangan para tokoh tentang pendidikan, yaitu
sebagai berikut :1.
Ki hajar
dewantara ( 1889 – 1959 ) memandang ,”penndidikan umumnya berarti daya upaya
untuk memajukan budi pekerti ( karakter kekuatan batin ),pikiran ( intelect
) dan jasmani anak anak selaras dengan alam dan masyarakat.”
2.
H.
Horne berpendapat bahwa pendidikan adalah proses yang terus menerus ( abadi )
dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi manusia yang telah berkembang secara
fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestasi
dalam alam sekitar intelektual, emosional, dan kemanusiaan dari manusia.
3.
Edge
Dalle menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar yang di lakukan oleh
keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,
dan latihan yang berlangsung di sekolah dan di lusr sekolah sepanjang hayat
untuk mempersiapkan peserta didik agar dapt memainkan peranan dalam berbagai
lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.. Dengan
pengertian yang tercantum di atas, penulis menyimpulkan bahwa pendidikan pada
hakikatnya adalah suatu usaha yang di sadari oleh individu untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan pada diri, di dalam maupun di luar kelas, yang
berlangsung seumur hidup. B.
Jenis-Jenis Tujuan Pendidikan
Langeveled ( 1980 ) mengemukakan beberapa jenis tujuan pendidikan,
yaitu :a)
Tujuan
Umum, atau tujuan akhir, atau tujuan “total”.
b)
Tujuan
khusus (pengkhususan dari tujuan umum).
c)
Tujuan
insidental, atau tujuan sesewaktu.
d)
Tujuan
sementara.
e)
Tujuan
tak lengkap.
f)
Tujuan
intermedier.
Keenam jenis tujuan tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut :a)
Tujuan Umum
Tujuan umum merupakan sesuatu yang akhirnya akan di capai oleh
pendidikan. Seperti di kemukakan di atas, kedewasaan merupakan tujuan
pendidikan, maka berarti semua aktivitias pendidikan harus di arahkan ke sana
untuk mencapai tujuan umum tersebut. Semua manusia di dunia ingin mencapai
tujuan itu, yaitu manusia dewasa. Jadi jelasnya bahwa yang menjadi tujuan umum pendidikan
adalah “kedewasaan”. b)
Tujuan khusus (pengkhususan tujuan umum)
Tujuan khusus di artikan sebagai suatu pengkhususan dari tujuan
umum. Seperti di sebut bahwa tujuan umum kedewasaan adalah eniversal. Manusia
dewasa yang universal itu di beri bentuk yang nyata berhubung dengan
kebangsaan, kebudayaan, agama, sistem politik, dan sebagainya. Demikianlah
manusia dewasa di indonesia memiliki ciri khas sesuai dengan falsafah hidup
bangsa indonesia yaitu pancasila.Dalam usaha membantu anak menjadi dewasa, selalu harus di
perhitungkan keadaan-keadaan khas, yang khusus dalam situasi pendidikan yang
berlangsung. Beberapa faktor yang harus di perhatikan dalam menentukan tujuan
khusus di antaranya ialah :1)
Jenis
klamin anak didik.
2)
Pembawaan
anak didik.
3)
Usia/taraf
perkembangan anak didik.
4)
Tugas
lembaga yang mendidikanak seperti keluarga , sekolah, masyarakat, masjid, dan
sebagainya.
5)
Falsafah
negara.
6)
Kesanggupan
pendidik.
c)
Tujuan Insidental
Tujuan insidental (insiden: peristiwa), ialah tujuan yang menyangkut
suatu peristiwa khusus. Boleh di katakan sukar mencari hubungan antara tujuan
insidental dengan tujuan umum (kedewasaan), namun sebenarnya tujuan insidental
tersebut terarah kepada pencapaian tujuan umum. Contoh ibu melarang anaknya
bermain di pintu terbuka, karena dapat menyebabkan kecelakaan terjepit pintu
misalnya, atau karena pintu merupakan arah masuknya angin bisa saja anak masuk
angin, atau mengganggu lalu lintas orang yang lewat di pintu. Jelaslah tujuan
insidental sangat jauh dari tujuan umum pendidikan yaitu kedewasaan. d)
Tujuan sementara
Tujuan sementara ialah tujuan yang terdapat pada langkah-langkah
unutk mencapai tujuan umum. Karena itu tujuan sementara lebih dekat kepada
tujuan umum di bandingkan dengan tujuan insidental seperti di jelaskan di atas.
Tujuan sementara merupakan titik perhatian sementara, yang merupakan persiapan
untuk menuju kepada tujuan umum. Tujuan sementara memberi kesempatan kepada
pendidik untuk menguji nilai yang ingin di capainya dengan perbuatan nyata.Dari kenyataannya yang di alaminya di harapkan anak akan mengetahui
kebenaran sesungguhnya. Mislanya tujuan agar anak biasa bersih, setelah ia
mengalaminya secara berulang-ulang berbagai tingkat dan jenis kebersihan, maka
ia di harapkan kelak mengerti dan biasa hidup bersih. Kita membisakan anak suka
bersih, tidak buang air kecil di sembarang tempat, membiasakan anak berbicara
sopan, melatih anak mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, dan sebagainya. Biasa
anak didik tidak menyadari tujuan insidental dan tujuan sementara itu. e)
Tujuan Tak Lengkap
Tujuan tak lengkap ialah tujuan yang
berkenaan dengan salah satu aspek pendidikan. Di sebut tidak lengkap karena
setiap tujuan yang di hubungkan salah satu aspek pendidikan berarti tidak
lengkap. Perlu di ketahui, bahwa kita tidak boleh mementingkan hanya salah satu
aspek saja, sehingga mengabaikan aspek yang lainnya. Aspek-aspek tujuan tak
lengkap misalnya : pendidikan jasmani, pendidikan sosial, pendidikan
kesusilaan, pendidikan estetis (keindahaan), pendidikan religius, dan sebagainya.
Contoh lain dari tujuan pendidikan tak lengkap, mislanya kita hanya
mengutamakan ranah pengatahuan saja, tanpa secara terpadu mengembangkan ranah
efektif, dan psikomotor. f)
Tujuan perantara
Tujuan perantara ialah tujuan yang melayani tujuan pendidikan yang
lain, merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan yang lain khususnya
tujuan sementara, sedangkan anak dapat menulis merupakan tujuan sementara,
sedangkan anak menguasai teknik seperti cara memegang pensil, bagaimana menulis
huruf-hurufnya, hal itu merupakan tujuan intermedier. Anak dapat dapat berjalan
merupakan pecapaian tujuan sementara, sedangkan rujuan koordinasi
gerakan-gerakan otot kaki merupakan tujuan intermedier. Lulus SMP merupakan
tujuan sementara dalam mencapai tujuan akhir menjadi dewasa, sedangkan naik
kelas dari kelas satu sampai kelas dua merupakan tujuan intermedier. C. Lembaga Pendidikan Sekolah
a) Pengertian sekolah
Everet reimer mendefinisikan bahwa “sekolah
sebagai lembaga yang menghendaki kelompok-kelompok umur tertentu dalam
ruang-ruang kelas yang di pimpin oleh guru-guru umtuk mempelajari kurikulum
yang bertingkat”.Selanjutnya Hadari Nawawi memandang sekolah
itu sebagai organisasi kerja, atau sebagai wadah kerjasama sekelompok orang
dalam bidang pendidikan untuk mencapai tujuan.Ensiklopedia Indonesia menyebut sekolah
adalah tempat peserta didik mendapat pelajaran yang di berikan oleh guru, jika
mungkin guru yang berijazah. Pelajaran hendaknya di berikan secara peadegogis
dan diktatik. Tujuannya untuk mempersiapkan peserta didik menurut bakat dan
kecakapannya masing-masing agar mampu berdiri sendiri di dalam masyarakat.Dari definisi di atas jelas bahwa sekolah
itu adalah lembaga atau organisasi yang melakukan kegiatan kependidikan
berdasarkan kurikulum tertentu yang melibatkan sejumlah orang (guru dan murid)
yang harus bekerja sama untuk mencapai tujuan. D.
MACAM-MACAM SEKOLAH
Sosialisasi
pertama biasanya dengan membaca bagaimana sekolah yang akan kita masuki. Pada
dasarnya jika di tinjau dari orang tua lembaga yang mendirikannya, kita bisa
memilih sekolah negri ( yang didirikan oelh pemerintah ), atau sekolah swasta (
yang didirikan oleh pihak swasta ), kedua sekolah ini jelas mempunyai kualitas
dan biaya yang berbeda. Sekolah swasta umggulan lebih mahal di bandingkan
dengan sekolah negri. Namun, ada sekolah swasta nonunggulan untuk kalangan
menengah ke bawah. Hal itu terjadi karena sekolah swasta menggaji karyawannya
tanpa di bantu oleh siapa pun termasuk pemerintah, sedangkan sekolah negri,
sebaliknya. Nah, di sanalah kita bisa mulai mambimbing anak kita untuk membaca
lingkungan untuk pertama kalinya dalam bersosialisasi. E.
Pengertian Anak Usia Sekolah
anak usia sekolah
adalah anak yang berada pada usia-usia sekolah. Masa usia sekolah sebagai masa
kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam hingga kira-kira usia
duabelas tahun. Karakteristik utama usia sekolah adalah mereka menampilkan
perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, diantaranya
perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan
kepribadian dan perkembangan fisik (Untario, 2004). usia sekolah adalah
usia yang sangat penting dalam perjalanan hidup anak, karena usia inilah
pertama sekali anak diperkenalkan dengan dunia pendidikan formal, dimana dalam
pendidikan formal anak sudah dituntut mampu menerapkan intelektualnya. Dalam
masa ini juga anak mengalami pertumbuhan fisik serta perkembangan emosional dan
sosial, anak senang berkumpul dengan teman sebaya untuk melakukan sosialisasi.
Rentang umur usia sekolah antara enam sampai dua belas tahun sesuai dengan
pendapat Nasution (1993, dalam Djamarah, 2008).Dengan pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa anak
usia sekolah merupakan seorang anak yang sedang berpartisipasi melanjutkan pendidikannya
di lembaga sekolah, dalam masa ini yang berlansung dari usia enam sampai du
belas tahun anak mengalami proses pertumbuhan fisik serta perkembangan
emosional dan sosial. F.
Pengertian Sekolah Menengah Pertama (SMP) Sekolah
Menengah Pertama ( SMP) merupakan jenjang pendidikan dasar formal di
Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD) atau yang
sederajat. Sekolah Menengah Pertama dilaksanakan dalam kurun waktu 3
tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9. Siswa kelas 9 diwajibkan mengikuti
Ujian Nasional yang mempengaruhi kelulusan atau tidaknya siswa. Lulusan sekolah
menengah pertama dapat melanjutkan ke tingkat pendidikan lebih tinggi, yaitu
pendidikan sekolah menengah atas (SMA) atau sekolah menengah kejuruan
(SMK) atau yang sederajat. Pelajar sekolah menengah pertama umumnya berusia
13-15 tahun.
Sekolah Menengah Pertama ( SMP)
termasuk wajib belajar bagi setiap warga negara berusia 7-15 tahun di
Indonesia. Wajib belajar 9 tahun meliputi pendidikan dasar, yakni sekolah
dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3
tahun. Sekolah Menengah Pertama ( SMP)
diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Pengelolaan sekolah menengah
pertama negeri di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen
Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah
kabupaten/kota sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001. Sedangkan
Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang
standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah menengah pertama negeri
merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota.
Pada
tahun ajaran 1994/1995 hingga 2003/2004, sekolah ini pernah
disebut sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP).G.
Kebutuhan Remaja Dalam Perkembangannya
Dalam
perspektif teori sosial- psikologis memandang bahwa kebutuhan-kebutuhan remaja
berkaiatan erat dengan pemuasan kebutuhan mereka dalam kelompoknya. Menurut
teori, kebutuhan- kebutuhan tersebut menurut Melly sri Sulastri (1984), adalh
sebagai berikut.1.
Kebutuhan
untuk menerima afeksi dari kelompok atau individu, meliputi:
a.
Menerima
rasa kasih sayang dari keluarga dan orang lain di luar kehidupan keluarga;
b.
Menerima
pemujaan atau sembutan hangat dari teman-temannya;
c.
Menerima
penghargaan dan apresiasi dari guru dan pendidik lainnya;
2.
Kebutuhan
untuk memberikan sumbangan kepada kelompoknya meliputi:
a.
Menyatakan
afeksi kepada kelompoknya;
b.
Turut
serta memikul tanggung jawab kelompok;
c.
Menyatak
kesediaan dan kesetiaan kepada kelompok;
d.
Menghayati
keberhasilan dalam kelompok;
3.
Kebutuhan
untuk memahami.
4.
Kebutuhan
untuk mempelajari dan menyelidiki sesuatu. H.
Mencari Sekolah Ideal Bagi Anak
Pada zaman
sekarang timbul pandangan bahwa sekolah dengan kualitas bagus berarti mahal sehingga
para orang tua berlomba-lomba memasukan anaknya ke sekolah mahal, entah demi
gengsi atau mencari pendidikan terbaik untuk anank-anak mereka. Bagi masyarakat
yang berkantong tebal mungkin bukan hal yang sulit, tetapi bagaimana dengan
masyarakat lain yang kekurangan?Di dunia
khususnya di indonesia terdapat berbagi macam sekolah yang dapat di pilih. Kita
dapat memilih sekolah yang kita inginkan sesuai dengan kemampuan ekonomi kita.
Jika kemampuan ekonomi kita golongan menengah ke atas, kita dapat memilih
sekoalh dengan fasilitas dan pengajar yang paling baik.sedangkan, jika
kemampuan ekonomi kita menengah ke bawah, kita bisa memilih sekolah denagn
fasilitas dan guru seadanya, bahkan mungkin kita tidak mendapat kesempatan
bersekolah.Diferensiasi
sosial dan stratifikasi sosial merupakan salah satu anugrah Tuhan yang
mengambarkan kebesaran ciptaan Allah SWT. dengan demikian, segala macam bentuk
perbedaan, baik secara hirzontal maupun vertikal perlu di sikapi secara arif
dan bijaksana, dalam arti harus mampu memberikan pengahrgaan yang sama kepada
semua orang tanpa melihat latar belakang ras, agama, suku, gender, tingkatan
ekonomi, atau tingkatan yang lainnya. Selnjutnya,tidak boleh ada dominasi dari
kelompok suku, agama, dan ras tertentu. Semuanya berdasarkan job deskription
yang di perlukan. Karena pada dasarnya, kita di ciptakan sama dengan manusia
yang lainnya, yang membuat kita berbeda adalah usaha kita utnuk mengubah masa
depan kehidupan agar lebih baik. Nah, apa saja
yang sebaiknya kita perhatikan dalam memilih sekolah yag ideal ini? Vera
Itabilina K. Hadiwidjodjo, psi, psikolog dari lembaga psikologi terapan
UI,mencoba berbagi kepada ibu sekalian.Menurut beliau,
ada dua faktor terpenting yang harus di perhatikan orang tua dalam memilih
sekolah bagi anaknya, yaitu kondisi dan kebutuhan anak.Jika anak mudah
sakit, misalnya, sebaiknya pilh sekolah yang lokasiya tidak terlalu jauh dari
rumah.Jika anak
mempunyai hambatan berbicara, sebaiknya tidak memilih sekolah bilingual yang
nantinya justru akan membebani anak. a)
Memilih SMP
Masa
sekolah menengah pertama merupakan tahap awal anak menginjak usia remaja.
Tingkat emosinya sudah mulai terlihat berfariasi. Ada yang bisa di tebak jika
menyiratkan muka kesal, tetapi ada pula yang tidak memperlihatkan kesan apa pun
di wajahnya meskipun menyimpan beribu pekerjaan rumah harus ayah dan ibunya
selesaikan dengan pihak sekolah.Mencermati
tahap emosional anak SMP bisa juga memengaruhi bagaimana kelak ibu
mengarahkannya ketika memasuki masa ujian menuju sekolah yang benar-benar ia
sukai. Arahkannlah ia pada pilihan sekolah yang membantunya untuk memupuk rasa
percaya dirinya menghadapi tantangan yang makin bertambah. Walaupun SMP adalah
akhir dari masa wajib belajar 9 tahun, bukan berarti masa itu adalah masa
terakhir dari ia sekolah dan belajar. Pada tataran ini oarang tua menjadi teman
berbagi dalam menentukan langkah-langkah awal masa depannya. Dalam masa ini
puola ia sudah memberikan pendapat, apakah ia akan masuk sekolah agama atau
umum. Pilihanya pantas kita beri arahan agar anak lebih mudah mengikuti setiap
pelajaran yang ia geluti. Dmeikian pula, pada masa ini anak sudah
mulai memahami kelebihan dan kekurangan sekolah yang di tawarkan kepadanya. Ia
akan mangiakan jika sekolah yang kita pilihkan sesuai dengan harapannya.
Misalnya, di sekolah negri favorit karena sekolah menunjang kekuatan
pribadinya. Beberapa saran yang bisa menjadi perhatian kita, anatara lain
sebagai berikut.1.
Memilih
SMP unggulan atau biasa, negri atau swasta. Sesuaikan dengan tujuan memasukan
ke sekolah yang kita pilihkan untuk anak, fungsinya dialog antara anak orang
tua.
2.
Berilah
kesempatan kepada anak untuk ikut menentukan pilihannya. Caranya, dengan
memberikan gambaran yang jelas tentang situasi dan niali yang di miliki sekolah
yang akan di pilih dan harapan orang tua atas keberhasilan anak. Anak bisa
memilih sekolah yang menurutnya bisa di rekomendasikan kepada ayah atau
ibunya.jika menurut kita tamapk memberatkan karena jauh, biayanya tinggi, atau
terlalu memberatkan anak, kita bisa memberinya informasi mengenai perekonomian
kelaurga yang terbatas sehingga orang tua tidak bisa memberikan ongkos yang
lebih dari Rp 10.000 per hari.
3.
Pertimbangan
faktor “kenyamanan” bagi si anak dengan memperhatikan dengan lingkungan sekolah
tersebut, jangan membuat sampai tertekan. Jika ada kesempatan untuk memeilih
beberapa pilihan SMP yang rasanya paling tepat untuk anak kita.
4.
Pilihlah
sekolah yang memiliki ideologi atau kepercayaan yang seazas dengan yang di anut
keluarga, kecuali ia menganut paham kebebasan dalam menentukan pilihan.
5.
Lihatlah
bagaimana sekolah bisa mendukung kompetensi anak. Di SMP anak akan cenderung
banyak memilih kegiatan yang mengasah kompetensinya. Beberapa kegiatan, seperti
club belajar ilmiah, musik, organisasi (OSIS), olahraga yang lebih beragam,
pengurus masjid atau keagamaan, palang merah remaja, Paskibra, serta kegiatan
yang mengundang mereka untuk berprestasi dan berkompetisi.
6.
Sesuai
dengan kondisi keuangan ibu. Buatlah perencanaan agar anak tidak harus
menanggung malu jika di tengah jalan pihak sekolah harus menagih tunggakan
biaya sekolah. Bahkan, anak-anak yang sepatutnya berkonsentrasi di
sekolahmenjadi terganggu karen teringat beban orang tuanya.
7.
Jka
ibu memiliki anak perempuan, cobalah untuk senantiasa membuka komunikasi dari
hati kehati. Anak perempuan biasanya lebih cepat mengalami pubertas daripada
anak laki-laki. Seiring dengan itu, anak perempuan mulai dengan gaya hidupyang
cenderung konsumtif dan glamour. Oleh karena itu, jangan anggap enteng
perkembangan psikis dan fisik anak. Sedikit saja ibu lengah dari perhatia, anak
akan mencari “rumah” lain di luar rumahnya sendir. Apabila ibu menggantungkan
harapan masalah pubertas ini kepada gurur-gurusekolah sebagai tempat untuk
berbagi, tentu tidak mudahbagi anak untuk mengungkapkan segala gejolak dan
prahara yang ada dalam hatinya. Kerja sama sekolah dan orang tua sungguh tugas
yang berat bagi pendidi, baik ibu maupun guru. Oleh karena itu, lihatlah
bagaimana sekolah itu bisa membawa anak didiknya ke jalan yang di cintai Allah
SWT, bukan menjerumuskan pada hal-hal yang merusak nilai-nilai dan norma
kehidupan bermasyarakat. I.
Profil Kp BAB IIIMETODOLOGI PENELITIANA.
Jenis penelitian
Jenis
penelitian yang di gunakan penulis saat ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan cara: penyebaran angket
kepada usia anak sekolah Kp.passirmanggu. B.
Populasi dan sampel
Dalam
pembuatan karya ilmiah ini penulis mengambil populasi dari usia anak sekolah
Kp.Passirmanggu,dan sampel yang di ambil oleh penulis 30 yakni
...............pada usia anak sekolah Kp.passirmanggu. C.
Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini di lakukan pada tanggal
............................yang bertempat di Kp.Passirmanggu.
Prof. Dr. Dedi
Mulyasana, M.Pd., Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing (Bandung:
PT.
Remaja Rosdakarya, 2015),
hal, 3-4 Drs. Uyo
Sadulloh, M.Pd, Dr. Agus Muharram, M.Pd, Drs. Babang Robandi, M.Pd. PEDAGOGIK
(ilmu mendidik) (Bandung: ALFABETA, cv, 2011), hal, 75-77 Prof. DR. H.
Ramayulis, Dasar-Dasar Kependidikan (Jakarta: Radar Jaya Offset, 2015),
hal, 250-251 Aischa
Revaldi, Memilih Sekolah Untuk Anak (Jakarta: Inti Media, 2010), hal, 27
http://www.psychologymania.com/2012/10/pengertian-anak-usia-sekolah.html
https://lenterakecil.com/pengertian-sekolah/
Mohammad Ali,
Mohammad Asrori, PSIKOLOGI REMAJA (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2017), hal,
160-161 Aischa Revaldi,
Memilih Sekolah Untuk Anak (Jakarta: Inti Media, 2010), hal, 62-63
Aischa Revaldi,
Memilih Sekolah Untuk Anak (Jakarta: Inti Media, 2010), hal, 161-164x
x
Komentar
Posting Komentar